sejarah batik thailand

SEJARAH BATIK DI NEGARA MALAYSIA DAN THAILAND

Sejarah Batik di Malaysia

Indonesia memang bukan negara satu-satunya pemilik batik di dunia.

Negara tetangga, Malaysia pun punya tradisi membatik.

Kekayaan motif dan ragam hias batik dari seluruh penjuru tanah air Indonesia sejak berabad-abad lalu tidak dapat dipungkiri telah menginspirasi corak batik di Malaysia.

Pada zaman dahulu, masyarakat Melayu (Pulau Sumatera dan Malaysia) mengguna- kan kentang sebagai alat cap pembuat batik.

Sejak tahun 1770-an, masyarakat Melayu telah memperkenalkan suatu motif batik yang disebut “batik pelangi”.

Pada saat itu komunitas Batik Minah Pelangi mendirikan perusahaan batik di Trengganu. Kemudian pada tahun 1911, Haji Che Su bin Haji Ishak mendirikan perusahaan batik di kawasan Lorong Gajah Mati, Kota Baru, Kelantan Sejak saat itulah sejarah batik Malaysia dimulai.

Teknik Membatik

Pada periode awal kemunculannya, teknik pembuatan “batik pelangi” hanyalah menggunakan teknik ikat dan celup. Kebutuhan akan kain didatangkan dari Thailand, yaitu jenis kain pereir.

Sedangkan, bahan pewarna dibuat sendiri dengan menggunakan pewarna buah dan kulit kayu.

Oleh karena itu, warna kain “batik pelangi” yang dihasilkan hanyalah biru hitam saja.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1922 telah mulai membuat batik dengan menggunakan blok kayu (teknik batik cap).

Kemudian pada tahurn 1926, pewarna kimia dari Eropa mulai banyak digunakan.

Perubahan tersebut telah membawa perkembangan batik di Malaysia.

Namun demikian, dari segi corak batik Malaysia dipengaruhi oleh corak batik yang berkembang di Indonesia.

Malaysia punya batik bercorak floral atau tanaman bunga yang sangat mirip nembuat dengan batik Indonesia.

satu faktor penyebabnya, ternyata pada tahun 1970- an banyak orang.

Pekalongan dan Ponorogo yang pindah ke Malaysia.

Akulturasi budaya menjadi penyebab adanya kesamaan corak dan motif batik Indonesia dengan Malaysia.

Setidaknya ada lima jenis motif batik yang dijadikan corak atau ragam hias batik Malaysia.

Pertama, motif batik unsur flora, misalnya motif bunga, daun, dan ranting yang ditampilkan, baik secara tunggal atau bertabur.

Kedua, motif batik unsur fauna, misalnya motif kumbang, burung, ayam, rusa ikan, dan lain sebagainya.

Ketiga, motif batik unsur geometri, misalnya motif garis lurus parang rusak, jaring bersilang, kawung, persegi, ceplok, pilin berganda, dan lain sebagainya.

Keempat, motif batik unsur benda buatan manusia, misalnya motif obor, jaring ikan, layang-layang, dan lain sebagainya.

Kelima, motif batik unsur isen, misalnya motif atap, sirapan, cacah gori, cecek-cecek, galangan, gringsing, poleng, sisik, dan lain sebagainya.

Sementara itu, ada tiga teknik pembuatan batik Malaysia.

Pertama, pembuatan batik dengan teknik blok (teknik batik cap)

Kedua, pembuatan batik dengan teknik tulis atau lukis.

Ketiga, pembuatan batik dengan teknik skrin, sablon, atau printing.

 

 Sejarah batik di Thailand

Thailand juga mempunyai kebanggaan dalam hal tradisi membatiknya.

Batik Thailand yang dikerjakan dengan teknik wax-resist dyeing disebut “phanung”.

Tidak semua jenis pakaian batik dikerjakan di Thailand.

Thailand lebih memfokuskan pada pengerjaan batik dalam bentuk kain sarung yang sering digunakan oleh penduduk Pulau Koh Samui untuk kegiatan bersantai.

Motif batik Thailand hampir sama dengan motif batik yang berkembang di Malaysia.

Motif batik yang paling menonjol di Thailand mengadopsi unsur hewan dan tumbuhan.

Sedangkan, kombinasi warna yang digunakan sangat beragam dengan pilihan warna dominan cerah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *