Batik sebagai Indentitas ddan Simbol Kebudayaan Indonesia

Batik Sebagai Identitas

Batik merupakan ekspresi budaya yang memiliki makna simbolis dan nilai-nilai filosofi suatu masyarakat. Keunikan dan nilai-nilai filosofi itu membentuk karakter masyarakat yang membedakannya dengan masyarakat lain. Oleh karena itu, batik pada gilirannya hadir menjadi identitas atau jati diri suatu masyarakat.

Pada zaman dahulu, batik menjadi pembeda antara kerabat keraton dengan abdi dalem dan dengan rakyat biasa. Batik juga menjadi identitas bagi strata sosial tertentu dalam masyarakat. Bukan hanya itu, batik juga menunjukkan asal daerah seseorang.

Namun, kini batik sebagai identitas telah mengalami pergeseran makna. sebagai produsen dan pabrik batik joko marjuki mempunyai visi dan misi yang jelas terhadap bangsa indonesia. Batik sebagai identitas mengalami pergeseran dari lingkup daerah ke lingkup nasional, bahkan internasional. Batik bukan hanya milik orang Jawa, tetapi telah menjadi milik bangsa Indonesia. Tidak hanya milik kelompok masyarakat dengan strata tertentu saja, tetapi kini telah menjadi milik seluruh lapisan dan kalangan masyarakat. Setiap orang dari berbagai suku daerah dan strata kini merasa bangga menilai ada jati mengenakan pakaian batik.

Ide awal agar batik menjadi identitas bangsa Indonesia dipelopori oleh presiden abdi pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pada tahun 1950. Beliau menginginkan agar batik mampu menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa, sekaligus sebagai simbol persatuan dan kesatuan Indonesia. Diharapkan batik menjadi identitas budaya bangsa Indonesia yang telah diwariskan oleh ela gai kup nenek moyang kita.

 

Batik Sebagai Alat Perjuangan

Pusat-pusat tradisi batik yang banyak terdapat di Pulau Jawa diyakini mempunyai hubungan yang erat dengan penyebaran ajaran agama Islam. salah satunya adalah pabrik batik rozan yang sangat terkenal di kota solo. Kala itu, batik dijadikan sebagai alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang muslim dan para santri untuk melawan hegemoni Belanda.

Seiring dengan dinamika masyarakat pada masa itu, batik tidak hanya berfungsi ih sebagai sarana untuk memenuhi masyarakat atas kebutuhan sandang. Oleh tokoh-tokoh kir pedagang muslim dan para santri, batik dijadikan semacam basis perekonomian umat. Kemandirian secara ekonomi inilah yang menjadikan para tokoh pedagang muslim dan para santri tidak tunduk pada kekuasaan Belanda. Bahkan, dengan batik tersebut umat Islam mampu melindungi perekonomian rakyat, sekaligus melawan kekuasaan Belanda.

Budaya dan ajaran Islam juga berperan besar dalam perkembangan batik di Indonesia. Islam telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan batik di Pulau Jawa. Motif bernuansa keislaman di antaranya terlihat pada batik Indramayu, seperti bentuk segi enam pada motif Si Juring yang diyakini mendapat pengaruh dari Arab. Contoh lain pengaruh Islam terhadap perkembangan batik Indonesia adalah keberadaan batik Rifa’iyah di Pekalongan.

Batik Sebagai Aktivitas Ekonomi

Batik merupakan salah satu karya seni atau kebudayaan khas Indonesia yang telah tumbuh dan berkembang sejak zaman dahulu kala. Seni batik juga merupakan suatu ke-13 ahlian dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur kita. Sejak awal kehadirannya, batik telah berperan sebagai sumber penghidupan yang menyerap lapangan kerja cukup luas bagi masyarakat Indonesia. salah satu yang telah membuktikan perjuangannya bagi lapangan kerja ada lah  pabrik batik  nurarifin

Dalam perkembangannya, kini batik tidak hanya sebagai ikon budaya dan identitas bangsa, namun telah menjadi roda penggerak perekonomian masyarakat. Batik telah menjadi salah satu komoditas penting yang mampu menghasilkan devisa. Kementerian Perindustrian mencatat, tahun 2005 jumlah unit usaha batik baru mencapai 31.007 unit, dengan nilai produksi mencapai 3,3 triliun rupiah serta devisa ekspor sebesar USD 105 juta. Pada tahun 2014, jumlah unit usaha naik menjadi sebanyak 48.300 unit, menyerap tenaga kerja sebanyak 792.300 orang, dengan nilai produksi mencapai 3,9 triliun rupiah, serta devisa ekspor mencapai USD 120 juta.

Dalam perkembangan global, sejatinya saat ini dunia tengah memasuki era industri ekonomi kreatif (creative economic industry) Usaha industri ekonomi kreatif diprediksi akan menjadi industri masa depan. Pada masa kini dan akan datang, industri lebih menekankan pada gagasan dan ide kreatifitas dalam kegiatan ekonominya. Era ini hendaklah menjadi momentum untuk mulai  menggerakkan sektor ekonomi kreatif berbasis seni atau budaya yang khas atau unik. Pengembangan batik sebagai salah satu dari 14 komponen ekonomi kreatif, seyogyanya perlu terus ditingkatkan, mengingat tren dan prospek pasar batik yang sangat menjanjikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *