Bisnis Batik di Mata Dunia Menjadi Motivasi Berkembangnya Batik

Suvenir Batik

Selain sebagai pakaian, keperluan sehari-hari, dan lukisan, desain atau motif batik sering digunakan sebagai hiasan berbagai barang suvenir. Untuk keperluan pembuatan desain atau motif batik sebagai hiasan berbagai barang suvenir ini dapat menggunakan teknik lukis, sablon, cap, maupun printing. Sedangkan, medianya pun tidak hanya kain, tetapi bisa juga berupa kaca, plastik, karet, mika, kayu, keramik, porselin, kertas, kulit, dan lain sebagainya. mau tau seperti apa saja bentuknya yuk cek di  pabrik batik nur arifin.

Suvenir batik berbahan kaca misalnya berupa gelas, teko, dan lain sebagainya. Suvenir batik berbahan plastik dan karet, misalnya berupa plastik bungkus, payung, tas, sandal, sepatu, dan lain sebagainya. Suvenir batik berbahan mika, misalnya berupa gantungan kunci, pigura, dan lain sebagainya. Suvenir batik berbahan kayu, misalnya berupa hiasan dinding, perisai, pigura, dan lain sebagainya. Suvenir batik berbahan keramik dan porselin, misalnya berupa vas bunga, guci, gelas, dan lain sebagainya. Suvenir batik berbahan kertas, misalnya berupa kertas kado, sampul buku, wallpaper, dan lain sebagainya. Sedangkan, suvenir batik berbahan kulit, misalnya berupa baju, jaket, jas, ikat pinggang, sepatu, sandal, tali jam, dan lain sebagainya. yuk jalan jalan melihat semua itu di pabrik batik rozan

 

BAB 2 SEJARAH “BATIK” DUNIA

Seni menggambar atau menulis dan mewarnai kain dengan teknik perintang warna menggunakan lilin atau malam dari sarang lebah (wax-resist dyeing), sebenarnya sudah dikenal dalam peradaban manusia sejak zaman dahulu kala. bagaimana pabrik batik joko marjuki melakukan itu semua. Teknik pewarnaan kain yang mirip dengan cara membatik di Indonesia itu, ternyata sudah diterapkan oleh bangsa Mesir sejak kurang lebih 2.500 tahun yang lalu. Bukti sejarah ini menunjukkan bahwa seni pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing telah meretas jarak dan waktu yang sangat panjang. Ada banyak kata atau istilah untuk menyebut hasil seni pewarnaan dengan teknik wax-resist dyeing di berbagai negara. Misalnya “batik”, “batick” “bathik”, “batique”, “batek”, dan “batix”. Selain itu, ada pula penyebutan “miao”, , ” ro-kechi” , “katanori” , “phanung” , “kalagai”, dan “bokhara”, Itu menunjukkan bahwa aktivitas membatik juga bisa dijumpai di negara-negara lain, seperti di Tiongkok, India, Arab, Jepang, Belanda, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, Filipina, Rusia, Azerbaijan, Nigeria, Afrika Selatan, dan Senegal. Namun, kata atau istilah “batik” atau “bathik” hanyalah berasal dari bahasa Jawa dan memang khas Indonesia.

Sejarah Teknik Perintang Warna

Menurut Kusrianto (2013), membuat lukisan dengan teknik perintang warna (resist dyeing) telah dilakukan oleh manusia purba sejak zaman Paleolitikum (50.000-10.000 Sebelum Masehi). Di Spanyol untuk pertama kali ditemukan lukisan gua berupa lukisan tangan menggunakan teknik perintang warna di Gua Altamira. Bisa jadi, seni pewarnaan kain dengan teknik perintang warna menggunakan lilin atau malam (wax-resist dyeing) mengambil inspirasi dari lukisan tangan dengan teknik perintang warna di Gua Altamira itu. hal ini telah dipelajari dari dulu sama pabrik batik joko marjuki

Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang warna menggunakan lilin atau malam (wax-resist dyeing) merupakan salah satu bentuk seni kuno. Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang warna pertama kali ditemukan di Mesir. Bangsa Mesir telah menggunakan teknik ini sejak abad ke-4 1924. Sebelum Masehi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi dengan malam untuk membentuk pola atau ragam hias. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa kain pembalut atau sarung tangan Firaun di masa itu juga telah menggunakan seni pewarnaan kain dengan teknik perintang warna.

Teknik serupa juga ditemukan di Persia Kuno dan negara-negara Timur Tengah. Sementara di Asia, pewarnaan kain dengan teknik wax-resist dyeing ditemukan di Tiongkok semasa Dinasti T’ang antara tahun 618 hingga 907 Masehi, serta di India dan Jepang semasa Dinasti Narayang antara tahun 645 hingga 794 yang disebut “ro-kechi”. Sedangkan di Afrika, teknik pewarnaan kain tersebut juga dapat dijumpai pada Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *